17 November 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

HPS dan Momentum Kemandirian Pangan


HPS dan Momentum Kemandirian Pangan

Oleh Astik Drianti S. P., M. P (Dosen Universitas Kutai Kartanegara)

Kalimantan Selatan akan menjadi tuan rumah bagi perhelatan Hari Pangan Sedunia yang dilaksanakan tanggal 18-21 Oktober 2018. Pelaksanaan Hari Pangan Sedunia (HPS) ini akan dipusatkan di desa Jejangkit Muara, Kabupaten Batola dan kompleks perkantoran gubernur di Banjarbaru.

Penyelenggaraan HPS yang rencana akan dihadiri Presiden Joko Widodo dan puluhan duta besar dari negara sahabat tersebut mengangkat tema besar mengenai pengelolaan lahan rawan. (kompas.com 30/9/18).

Saat ini,luas lahan rawa di Indonesia yang mencapai 33,4 juta hektar. Dari jumlah itu 20,14 juta hektar di antaranya merupakan lahan rawa pasang surut (LRPS) serta 13,26 juta hektar lahan rawa lebak (LRL), dan tercatat 9,53 juta hektar di antaranya berpotensi sebagai lahan pertanian produktif.

HPS tahun ini dilaksanakan di atas 4000 Hektare lahan rawa, yang beberapa ratus hektarnya telah dipanen (kompas.com 12/10/18). Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro mengatakan kepada kompas.com “Lahan yang tadinya tidak produktif, dengan sentuhan teknologi pertanian yang tepat, kini bisa bermanfaat bahkan berpotensi menjadi tulang punggung penghasil pangan nasional hingga berpeluang menjadi sumber ekonomi masyarakat disekitarnya,” paparnya.

Pangan utama dalam hal ini padi, telah memainkan peranan penting pada sektor pertanian Indonesia. Komoditas ini senantiasa menyedot perhatian pemerintah, berbagai upaya untuk meningkatkan produksi padi, kualitas padi, distribusi dan kesejahteraan petani padi senantiasa bercampur dengan kepentingan politis dan apolitis.

Secara geografis Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan tanaman padi lengkap dengan berbagai keragamannya. Indonesia memiliki balai-balai pertanian yang spesifik termasuk balai penelitian tanaman rawa yang mampu menghasilkan spesies-spesies baru padi yang tahan hidup di lahan rawa.

Selain itu, di beberapa daerah pedalaman kita dapat temui gengsi padi hutan yang mampu tumbuh besar dan beradaptasi dengan kondisi lingkungannya. Begitu juga dengan padi gunung atau padi gogo, ketika rawa tidak dapat di tanai, gunung pun mampu menghasilkan padi. Berbagai potensi ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak selayaknya kekurangan bahan pangan utama yakni padi.

Niat besar pemerintah untuk membangunkan raksasa besar yang sedang tidur, dengan pengelolaan lahan rawa, harus kita apresiasi. Karena sejatinya tidak ada satu negara pun yang ingin bergantung kepada negara lain dalam hal pangan. Kemandirian Pangan selama ini senantiasa menjadi fokus utama dalam pembangunan pertanian kita.

Peningkatan produksi padi selain membutuhkan benih yang tepat, pupuk, pompa dan puluhan ekscavator juga alat dan mesin pertanian lainnya, seperti yang telah disalurkan ke Batola sebagai pusat pelaksanaan HPS, juga membutuhkan kerja panjang dalam peningkatan soft skill petani, kemampuan memanajemen lahan, keuangan serta kemandirian petani. Jika soft skill ini tidak di lengkapi maka program ini hanya akan berakhir dengan berakhirnya pelaksanaan HPS.

Dukungan utama pemerintah dalam pengembangan padi justru terletak pada insentif bagi petani. Bagaimana menaikkan nilai tukar petani (NTP) dan bagaimana pemerintah menjamin kebutuhan hidup petani. Sehingga petani tidak merasa rugi dan jera untuk bertani. Karena sudah menjadi umum bahwa program akan berhenti ketika bantuan tidak lagi mengalir. Ini merupakan pr bersama.

Jaminan pemerintah kepada petani selain tersedianya benih, pupuk dan akses permodalan yang mudah serta pendampingan bagi petani, yang terutama adalah jaminan terserapnya hasil panen padi petani kita dengan harga yang layak. Kebijakan pemerintah untuk harga yang layak ini, hanya bisa terjadi jika antar departemen memiliki integrasi yang baik. Sehingga apa yang kita saksikan akhir-akhir ini tidak terjadi lagi.

Kita melihat bagaimana Bulog dan kementerian perdagangan saling serang karena impor beras. Sedangkan kita juga tahu bahwa sebagian petani Indonesia mulai panen. Ini kebijakan yang mematikan bagi petani. Karena impor akan membuat harga jatuh, disisi lain petani sedang panen, yang tanpa impor pun harga akan lebih murah karena banyaknya pasokan.

Akhirnya harga gabah kering menjadi murah, petani rugi, dan kehabisan modal. Sehingga musim tanam berikutnya petani berhutang untuk menanam padi.

Peringatan Hari Pangan Sedunia ini seharusnya menjadi momentum, agar tata kelola yang salah pada pertanian dan petani tidak terulang kembali. Pemerintah harus mensinergikan semua bidang, dan harus berani berkata tidak kepada impor pangan, dan membuktikan kesungguhan untuk memajukan pertanian dan petani Indonesia, sehingga sejahtera bukan sekadar jangan dan dinikmati segelintir elit. Melainkan sejahtera dapat dirasakan langsung oleh semua lapisan masyarakat.

Selamat Hari Pangan Sedunia. Semoga berjaya pertanian dan petani kita, adil Makmur sejahtera sehingga tema world Food Day tahun ini. "Our Actions are Our Future, A Zero Hunger World by 2030 is Possible" bisa terealisir. (*)

Reporter :     Editor : Klik Samarinda



Comments

comments


Komentar: 0