17 November 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Mahasiswa Unmul Serahkan Bukti Dugaan Plagiat, Ini Kata PR IV


Mahasiswa Unmul Serahkan Bukti Dugaan Plagiat, Ini Kata PR IV
Pembantu Rektor IV, Dr. Bohari Yusuf M.Si. (Foto KlikSamarinda)

KLIKSAMARINDA.COM – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Mulawarman (Unmul) 15 Oktober 2018 kembali menggelar demonstrasi. Kali ini, tuntutan mahasiswa dipusatkan di Rektorat Unmul.

Sekira tiga puluhan mahasiswa, sejak pukul 10.00 WITA dengan pengeras suara, spanduk protes, serta selebaran memulai unjukrasa (unras). Selain menyampaikan keresahan mahasiswa terkait kondisi kampus, mahasiswa juga memberikan bukti-bukti awal adanya dugaan plagiat karya tulis atau skripsi dari tiga oknum akademisi Isipol Unmul.

Ketiganya adalah dosen. Dugaan mengarah kepada Dekan Fisip Unmul, Muhamad Noor. Tak hanya itu, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi, Hairunnisa namanya ikut terseret lantaran tak mencatut nama mahasiswa pembuat skripsi saat melakukan registrasi journal secara online fasilitas milik kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda.

Setelah melakukan orasi di depan pintu utama gedung rektorat, sekira satu jam setengah mahasiswa ditemui Pembantu Rektor IV, Dr. Bohari Yusuf M.Si. Kepada sejumlah media daring, selaku perpanjangan tangan Rektor Unmul, Bohari menerima aspirasi Mahasiswa (BEM & MPM) Fisip dilanjutkan dengan menerima dokumen bukti kepada stuktur tertinggi internal Perguruan Tinggi Unmul untuk ditindaklanjuti.

Menurut Bohari, kasus plagiat karya tulis memang rentan terjadi. Di beberapa kampus di Jawa, pernah terungkap dan terbukti. Oleh karena itu, seyogyanya setiap perguruan Tinggi dan sederajat memiliki teknologi kroscek journal atau karya tulis.

”Pembuktian atas plagiaris itu bisa akurat berdasarkan pembandingan materi atau karya ilmiah keduanya dengan menggunakan aplikasi khusus,” ujar Bohari seusai menerima demonstrasi mahasiswa menjelaskan.

Pria lulusan S3 Universitas de Pau et Des Pays de L'Adour Perancis itu tak dapat mengambil keputusan selain mempelajari dokumen mahasiswa. Pihaknya mengatakan masih menunggu hasil resmi keputusan pihak Fakultas Isipol atas kasus plagiasi ini.

”Tunggu saja, ya,” singkatnya.

Di tempat yang sama, Presiden Mahasiswa Fisip Andi Muhamad Akbar menjelaskan, unras yang dilakukan untuk mendesak pimpinan Universitas bertindak tegas atas dugaan plagiasi karya tulis mahasiswa Fisipol yang mengarah kuat menyasar Dekan Fisip Unmul, Muhamad Noor serta Ketua Prodi Ilkom, Hairunnisa.

Menurutnya, tim Riset Agitasi dan Propaganda BEM Fisip dan MPM Fisip yang dibentuk pada 30 Mei 2018 mencium kasus di lingkungan kampusnya. Penerusuran itu berangkat dari 15 Februari 2018 Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda, yang menggelar acara dengan tema Proceeding Of The 2nd Internasional Confrence On Education And Islamic Culture Revitalizing The Role Of Islamic Higher Education Towards Cultural Transformation and Radicalism Prevention.

Setelah beberapa bulan ditelusuri, ternyata tulisan-tulisan tersebut memuat kesamaan isi dengan karya ilmiah mahasiswa berupa skripsi yang hanya diubah dalam terjemahan bahasa Inggris.

Karya mahasiswa tersebut yakni,Efforst To Incraease Muzakki Trust Fund Management For Ummat (DPU) In Social Marketing Analysis Perspective. Karya Hairunnisa, Muhammad Noor Advertising Representation “Indonesia Adalah Kita” In Multicultural Frame Religion In Indonesia. Karya Muhammad Noor, Hairunnisa Memahami Etika Islam pada Program Berita Islami Masa Kini TransTV.

Karya Hariati, Darmawati. Sementara dugaan plagiat skripsi mahasiswa yang antara lain adalah ; Analisis Social Marketing Dana Peduli Umat (DPU) Kaltim Dalam Meningkatkan Kepercayaan Muzakki Wilayah Kota Samarinda karya Mahasiswa Ilkom.

Lalu Representase Agama Dalam Iklan Indonesia Adalah Kita di NetTV karya Mahasiswa Ilkom dan Stimulus Kognitif Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman Dalam Memahami Etika Islam pada Program Berita Islami Masa Kini TransTV karya mahasiswa Ilkom.

Untuk kepentingan mahasiswa, identitas diri dua mahasiswi sengaja tidak dapat dipublis untuk kepentingan menjaga psikologi korban (Mahasiswa, Red). (*)




Comments

comments


Komentar: 0