17 November 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Jalan Panjang Rencana Besar Pipanisasi Gas Kaltim Oleh Bakrie Group


Jalan Panjang Rencana Besar Pipanisasi Gas Kaltim Oleh Bakrie Group
Ilustrasi

KLIKSAMARINDA.COM - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) melalui Gubernur Awang Faroek Ishak, telah terang-terangan menolak proyek pembangunan pipeline Bontang Kaltim-Tangkisung Kalimantan Selatan (Kalsel). Alasan Gubernur, proyek ini tak memberikan keuntungan untuk Kaltim.

Pembangunan tersebut rencananya akan dilakukan oleh PT Bakrie Indo Infrastructure. Menurut Gubernur, proyek pipanisasi itu justru membuahkan kecemasan. Rencana tersebut, menurut Gubernur, bisa menyebabkan nasib Kota Bontang sama dengan Kota Lhoksumawe, Provinsi Aceh, yang terabaikan pasca gas menipis.

“Tidak ada keuntungan sedikit pun untuk Kaltim. Saat ini kebutuhan gas Kaltim saja belum tercukupi. Makanya saya tegas mengatakan menolak,” ujar Gubernur saat Focus Group Discussion (FGD) membahas pipanisasi gas Bontang di Pendopo Lamin Etam Kompleks Kantor Gubernur Kaltim Jalan Gajah Mada, Samarinda, Senin 10 September 2018.

Namun, proyek ini ternyata telah bergulir sejak 11 tahun lalu, yaitu pada 2007. Pemerintah pusat telah merencanakan proyek ini sebagai bagian dari TransAsia Pipeline.

Proyek pembangunan jalur pipa gas Bontang-Tangkisung akan dilakukan secara BOT (Build Operation Transfer). PT Bakrie & Brothers akan menyiapkan dana senilai 500 juta US Dollar sepanjang 320 KM melewati sejumlah kabupaten/kota di Kaltim. Kontrak pengerjaannya dipegang oleh PT Bakrie Indo Infrastruktur sejak awal tahun 2008.

Dikutip dari Viva, Chief Executive Officer Bakrie & Brothers, Bobby Gafur Umar, memastikan bahwa rencana pembangunan jalur distribusi pipa gas ini akan digarap dari wilayah Kalimantan Timur hingga ke Kalimantan Selatan.

Bakrie & Brothers sebagai pemegang lisensi proyek pemerintah ini optimis jika proyek tersebut akan berjalan sesuai rencana meskipun memerlukan penyesuaian karena telah 11 tahun mandeg.

Jalur pemipaan gas ini akan merangkul sejumlah negara di Asia Tenggara, antara lain Thailand, Malaysia, Singapura, Sumatera Selatan, Aceh, Jawa Barat, Jawa Timur, Semarang hingga Kalimantan.

"Jadi, perencanaannya sudah dibuat oleh pemerintah sejak 2007, saat dilelangkan. Nah, sekarang kami sedang mengkaji lagi, karena banyak faktor yang berubah sejak 11 tahun yang lalu," kata Bobby di kawasan Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Kamis 13 September 2018.

Karena itu, pihaknya akan melakukan feasibility study atau uji kelayakan ulang. Bobby mengaku hal itu juga sudah ada. Sebab, saat proyek ini digagas pemerintah pusat pada 2007, dan ini merupakan bagian dari skema TransAsia Pipeline, yang menghubungkan jalur perpipaan gas di sejumlah negara.

"Jadi, gas itu bisa dipindahkan dengan metode, kalau di bawah 2.000 kilometer itu lebih efisien menggunakan pipa dibandingkan dengan LNG. Karena, LNG kan mesti dibikin liquid tension, di-transport, kemudian diregasifikasi lagi, tiga kali cost," kata Bobby.

"Kalau ini kan, gas bumi murni langsung dibawa. Jadi, bisa dari sumbernya di Bontang, dipakai ke Kalimantan Selatan kalau nyambung. Jadi, itu rencana besarnya," ujarnya. (*)




Comments

comments


Komentar: 0