19 November 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Antara Rupiah dan Pembiayaan Kesehatan


Antara Rupiah dan Pembiayaan Kesehatan
Winda Wulandari

Oleh: Winda Wulandari (Mahasiswa Fakutas Kesehatan Masyarakat Unmul)

Tepat pada Selasa, 4 September 2018, masyarakat Indonesia dikejutkan atas kembali melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Hingga Rabu, 5 September 2018 malam, nilai tukar rupiah berada pada level 14.946,45 per dolar Amerika.

Dilansir pada Kompas.com, ada beberapa hal yang menyebabkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, diantaranya :

1. Yield Spread
Adanya yield spread antara US Yreasury atau sura berharga pemerinta AS dan surat berharga Negara tenor 10 tahun yang semakin lebar juga turut berpengaruh pada melemahnya rupiah. Bima Yudhistira selaku peneliti Institute of Develovment for Economics and finance mengatakan, semakin lebar yield spread maka investor asing akan cenderung menjual surat utang Indonesia.

2. Sistem Perbankan dan perang Dagang
Menurut Shanti Rachmad selaku Presiden ASEAN International Business, ada 2 hal lagi yang membuat nilai rupiah anjlok. Pertama adalah infrastruktur sistem perbankan yang kurang memadai. Kedua yakni trade war atau perang dagang yang disinyalir memperburuk kondisi keuangan global.

3. Krisis Argentina
Menurut Meteri Koordinator Bidang Perkonomian, Darmin Nasution mengatakan bahwa adanya krisis, di Argentina sebagai salah satu penyebab rupiah melemah.

4. Kinerja Perdagangan yang kurang Optimal
Kegiatan ekspor dan impor dalam perdagangan mempengaruhi kurs mata uang. Tingginya ekspor dari pada impor menandakan perdagangan dalam kondisi baik. Sebaliknya, tingginya impor daipada ekspor menandakan perdagangan sedang dalam kondisi kurang baik, tingginya impor menyebabkan permintaan mata uang asing meningkat, akibatnya nilai tukar rupiah melemah.

Lantas, apa kaitan melemahnya nilai tukar rupiah dengan kesehatan? Menurut Muchtar dkk. (2018) defisit BPJS telah mencapai Rp9 triliun sampai akhir 2017. Adapun salah satu penyebab dari defisitnya BPJS adalah peningkatan Pembiayaan kesehatan.

Menurut Azwar (2010) ada 8 hal yang membuat meningkatnya pembiayaan kesehatan :
1. Tingkat Inflasi
2. Tingkat Permintaan
3. Kemajuan ilmu dan tegnologi (alat kesehatan).
4. Perubahan pola penyakit
5. Perubahan pola pelayanan kesehatan
6. Perubahan pola hubungan dokter pasien
7. Lemahnya mekanisme pengendalian biaya
8. Penyalahgunaan asuransi kesehatan

Melemahnya nilai tukar rupiah juga berpengaruh dengan meningkatnya pembiayaan kesehatan. Data dari Kementerian Kesehatan RI (2017) menunjukkan 92 persen atau 10.893 izin dikeluarkan untuk impor alat kesehatan.

Menurut Ade Tarya, Ketua Umum Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (2017), diperkirakan bahwa dana APBN yang di alokasikan untuk belanja alkes mencapai Rp17 triliun per tahunnya.

Dari data di atas, dapat dilihat bahwa melemahnya nilai tukar rupiah sangat berpengaruh terhadap meningkatnya pembiayaan kesehatan di Indonesia. Yang mana dapat dikaitkan dari defisitnya BPJS yang dikarenakan meningkatnya pembiayaan kesehatan.

Salah satu penyebab dari meningkatnya pembiayaan kesehatan adalah kemajuan ilmu dan tegnologi yang erat kaitannya dengan alat kesehatan. Sementara hingga detik ini alat kesehatan yang diimpor adalah sebanyak 92 persen.

Dengan itu, melemahnya rupiah dapat menyebabkan meningkatnya pembiyaan kesehatan. Hal ini tentu akan memperparah defisit BPJS. Ternyata sistem kesehatan di Indonesia juga salah satu penyebab melemahnya nilai tukar rupiah.

Salah satu penyebab dari melemahnya nilai tukar rupiah jika dilihat dari sisi ekonomi adalah tingginya impor yang menyebabkan kondisi perdagangan menjadi kurang baik.

Dari data-data yang didapatkan sebelumnya, dapat dilihat bahwa impor alat kesehatan sebanyak 92 persen. Di sini dapat dilihat bahwa tingginya impor dibandingkan ekspor yaitu sebanyak 8 persen. Dapat disimpulkan sebagai salah satu penyebab dari melemahnya nilai tukar rupiah adalah tingginya impor alat kesehatan.

Dengan data-data di atas, tentu mahasiswa kesehatan sebagai kaum intelektual tidak akan tinggal diam jika ada yang tidak benar dengan negeri ini. Terkhusus jika berhubungan dengan mencoreng wajah kesehatan Indonesia. Oleh Sebab itu, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universtitas Mulawarman dengan tegas menyatakan sikap:

1. Menuntut pemerintah agar segera menstabilkan nilai tukar rupiah, karene pengaruh dari melemahnya nilai tukar rupiah tidak hanya mempengaruhi dari segi ekonomi namun juga kesehatan
2. Menuntut pemerintah untuk mengutamakan ekspor dibanding impor terutama untuk Alat kesehatan.
3. Menghimbau kepada seluruh rakyat Indonesia untuk menggunakan produk local dan mulai mengurangi penggunaan produk-produk asing. (*)

Reporter :     Editor : Klik Samarinda



Comments

comments


Komentar: 0