21 April 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Diduga Meninggal Tak Wajar, Polisi Selidiki Kematian Bocah Akibat Kekerasan


Diduga Meninggal Tak Wajar, Polisi Selidiki Kematian Bocah Akibat Kekerasan
Ilustrasi

KLIKSAMARINDA.COM - Seorang anak bernama Hasanuddin di Perumahan Daksa Blok D1, Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) meninggal dunia, Kamis 28 Desember 2017 lalu.

Namun, kematian bocah anak pasangan Imam Sasmita dan Risnawati itu diduga tak wajar. Warga sekitar pun merasa curiga. Pasalnya, Hasanuddin meninggal dunia secara mendadak.

Kematian Hasanudin menjadi pertanyaan bagi warga sekitar. Menurut salah seorang warga, Munir Rahman, ibu kandung korban, Risnawati memiliki dua suami, yaitu Imam Sasmita dan Rahmad.

"Saya bongkar, terus dengar ini keluarganya si Imam terus Imam didesak mau bongkar apa ini? Apa yang terjadi? Terus ributlah itu. mungkin Imam bongkar-bongkar perihal kematian Hasan ini, sering dipukul," ujar Munir.

Sebelum Hasanuddin meninggal, warga masih melihatnya dalam kondisi yang sangat baik. Namun, sekitar pukul 18.00 WITA, Hasanuddin dikabarkan meninggal dunia.

Almarhum dimakamkan di pemakaman muslimin di Jalan Raudah, Samarinda. Almarhum dimakamkan berdampingan dengan makam sang kakek.

Warga sekitar kemudian melaporkan kejanggalan itu kepada kepolisian. Alhasil, polisi mengamankan ibu kandung korban dan salah satu ayah tiri korban, Rahmad.

Aksi penganiayaan dilakukan oleh Rahmad, suami ketiga Rismawati yang selalu datang pada saat suami kedua pergi bekerja. Meski tidak tinggal serumah, antara Imam dan Rahmad selalu bergantian mendatangi rumah yang terletak di ujung gang itu.

Diduga akibat kisah cinta orang tua yang tidak umum ini, menjadi penyebab aksi penganiayaan yang dilakukan ayah teman bapak tiri korban. Kepada polisi, Rahmad mengaku korban dan kakaknya kerap mendapat penganiayaan karena nakal.

Tindakan pelaku tergolong sadis. Selain kerap memukul, pria yang bekerja sebagai driver salah satu pejabat di Kantor Gubernur Kaltim ini juga suka mengikat dua anaknya dan menutup mulut mereka menggunakan lakban agar tidak berteriak.

"Saya ikat lagi di rumah. Tapi saya ngomong juga ama ibunya. Ikatkah lagi? Terserah aja kalau mau diikat. Saya ikatlah lagi. Baru saya pukul juga lagi. Sini-sini. Sering sih enggak. Kalau lagi kesal aja," ujar Rahmad.

Sang ibu, Rismawati mengaku aksi sadis Rahmad tidak mampu dia halangi. Perempuan yang baru berusia 27 tahun ini juga kerap mendapat penyiksaan yang sama dari Rahmad. Apalagi jika wanita yang pernah bekerja di sebuah rumah kebugaran ini menagih uang yang dipinjam Rahmad.

"Soalnya aku sering dipukul. Di sini sampai di sini. Sudah aku lapor sama Imam, aku dipukul. Imamnya takut sama dia soalnya Imam sudah diancam," ujar Rismawati.

Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Vendra Riviyanto mengatakan polisi sudah mendatangi rumah korban. Polisi juga melakukan penyelidikan terkait kasus ini.

Polisi langsung meminta keterangan dari dua suami ibu korban, termasuk ibu korban.

"Bapak tiri dari pada si anak yang 10 tahun namanya mungkin teman-teman sudah ada. Kapolsek telah melakukan pemeriksaan langsung terhadap tersangka itu karena itu sudah ada tindak lanjut tindakan bongkar kubur. Tentu kita gunakan saksi-saksi ahlilah. Untuk menguatkan apakah si tersangka memiliki gangguan kejiwaan atau juga seterusnya, kita laksanakan sesuai prosedur saja," ujar Kombes Pol Vendra. (*)

Reporter : M4N    Editor : Dwi Hendro B.



Comments

comments


Komentar: 0