21 Juli 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Peringati Hari Juang Kartika, Mahasiswa Samarinda Tolak Tentara Masuk Kampus


Peringati Hari Juang Kartika, Mahasiswa Samarinda Tolak Tentara Masuk Kampus
Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi mengkritik TNI melalui aksi, Jumat 15 Desember 2017 di Jalan M Yamin, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim).

KLIKSAMARINDA.COM - Perjuangan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang dipimpin Jenderal Soedirman pada pertengahan Desember 1945 membuat tentara sekutu terjepit dan mundur dari Ambarawa menuju Semarang.

Walaupun dihadang dengan seluruh kekuatan persenjataan modern serta kemampuan taktik dan strategi sekutu, para pejuang RI tak pernah gentar sedikit pun.

Mereka melancarkan serangan dengan gigih seraya melakukan pengepungan ketat di semua penjuru kota Ambarawa. Dengan gerakan pengepungan rangkap ini sekutu benar-benar terkurung. Jenderal Soedirman sebagai pemimpin pasukan menegaskan perlunya mengusir tentara sekutu dari Ambarawa secepat mungkin.

Sebab sekutu akan menjadikan Ambarawa sebagai basis kekuatan untuk merebut Jawa Tengah. Dengan emboyan ”Rawe-rawe rantas malang-malang putung, patah tumbuh hilang berganti” pasukan TKR memiliki tekad bulat membebaskan Ambarawa atau dengan pilihan lain gugur di pangkuan ibu pertiwi dan inilah cikal bakal terbentuknya Hari Juang Kartika Nasional yang diperingati setiap 15 Desember.

Mengingat itu, sesuai fungsinya, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) atau yang kini di sebut Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai garda terdepan dalam menjaga dan merpertahankan bangsa Indonesia.

Namun, terlepas dari masa Orde Lama, penyimpangan-penyimpangan dari pada fungsi TNI sangat jelas terjadi. Dari praktek kekerasan HAM dan tindakan repersifitas yang sangat sering terjadi.

Karena itu, Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi mengkritik TNI melalui sebuah aksi, Jumat 15 Desember 2017 di Jalan M Yamin, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim). Aksi tersebut menjadi momentum agar TNI lebih berpihak kepada masyarakat.

"Di tahun 2015 tercatat 128 kasus pelanggaran HAM yang terjadi dan ini terus bertambah di setiap tahunnya. Yang paling sulit terlupakan adalah peristiwa penembakan beberapa mahasiswa pada tanggal 12 Mei 1998 yang menelan 4 nyawa mahasiswa yang harus meregang nyawa dengan timah panas yang menembus tubuh mereka," ujar Koordinator Aksi LMND, Maykel Kesuma.

Tak hanya itu, LMND juga mencatat banyak sekali praktik campur tangan TNI yang mengisolir kampus dan dunia pendidikan. Di Kaltim sendiri, menurut LMND, beberapa universitas juga turut bekerja sama dengan pihak TNI dalam kegiatan kemahasiswaan

"Haram hukumnya mahasiswa bersentuhan langsung dengan pihak aparatur negara," tandas Maykel.

Karena itu, pada Hari Juang Kartika 15 Desember 2017, Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi menyatakan sikap menolak militer masuk ke dalam kampus. LMND juga mendorong untuk mewujudkan kegiatan belajar di kampus yang ilmiah dan jauh dari praktik militer dan premannisme.

Selain itu, LMND juga menolak komersialisasi pendidikan dan menggalang kekuatan untuk menyatukan kembali gerakan mahasiswa. (*)

Reporter : NR Syaian/KLIKSAMARINDA.COM    Editor : Dwi Hendro B.



Comments

comments


Komentar: 0