15 Desember 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Pencuri Itu Bernama Inflasi


Pencuri Itu Bernama Inflasi
Diskusi bertajuk \"Pengendalian Inflasi Daerah untuk Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat\" di Pelatihan Wartawan Daerah Bank Indonesia 2017, Senin 21 November 2017, di Puri Agung, Grand Sahid Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat. (Foto: KLIKSAMARINDA)

Medio 1966 --setahun pasca Gerakan 30 September-- Soekarno --Presiden Republik Indonesia ketika itu-- tak hanya tumbang oleh politik. Sang proklamator luluhlantak dihajar badai ekonomi; inflasi tertinggi dalam sejarah baheula Tanah Air yang mencapai 635 persen!

EMBRIO penyusutan Anggaran Pemasukan dan Belanja Negara (APBN) sejatinya mulai menyeruak di pertengahan 1962. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat --kala itu-- kenaikan harga mencapai 635 persen di 1966, berbanding lurus dengan kenaikan uang yang beredar sebanyak 763 persen.

Langkah penanganan kemudian dibuat. Pemerintah melakukan penurunan nilai mata uang, pembekuan, devaluasi, hingga melakukan sanering.

Kira-kira 32 tahun kemudian --setelah Orde Lama lengser-- kejadian yang nyaris serupa menghajar Indonesia untuk kali kedua. Kedidgayaan Orde Baru lewat sosok Bapak Pembangunan --Soeharto-- seketika rata dengan tanah tatkala moneter menjadi ihwal krisis multidimensi --inflasi berada pada posisi 77,63 persen pada 1998.

Sekali lagi, pemerintah mengambil langkah; suku bunga SBI mendadak ditingkatkan, BLBI dikucurkan, sistem nilai tukar berubah 180 derajat, rencana belanja pemerintah bahkan ditunda. Sudah cukup? Belum. Enam belas bank yang sakit terpaksa ditutup.

 

Dua fakta itu merupakan sekelumit sejarah singkat ekonomi Indonesia; sebuah cerita bagaimana hubungan inflasi dengan kebijakan perekonomian yang ditetapkan pemerintah.

Primus Dorimulu, Pemimpin Redaksi Investor Daily, Suara Pembaruan, dan Beritasatu.com, mengandaikan inflasi serupa dengan sosok pencuri tak berwujud.

"Kita tidak pernah tahu berapa isi dompet dan tabungan kita akan dicuri ketika inflasi terjadi," ucapnya, saat memberi sekapur sirih diskusi bertajuk "Pengendalian Inflasi Daerah untuk Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat" di Pelatihan Wartawan Daerah Bank Indonesia 2017, Senin 21 November 2017, di Puri Agung, Grand Sahid Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat.

Kini, masa-masa paling kelam --ekonomi-- tersebut perlahan mulai menemukan muaranya yang terbaik. Inflasi secara keseluruhan relatif terkendali. Oktober tahun ini, presentasenya hanya 0,01 persen (mom) dan 3,58 persen (yoy). Di bulan yang sama, inflasi tercatat 2,67 persen (ytd).

Inflasi pangan yang menjadi salah satu sektor terbesar, terus mengalami tren penurunan sejak awal 2017. Kondisi ini kian terkendali manakala pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Bank Indonesia, intens membangun koordinasi menjaga ketersediaan pasokan dan stok.

"Pak Jokowi (Joko Widodo, Presiden RI, Red.) pernah bilang, dalam 2 tahun terakhir, laju inflasi secara nasional hanya berada dikisaran 3 persen. Indonesia sudah memasuki era inflasi rendah," kata Iskandar Simorangkir --Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Bank Indonesia-- satu dari empat narasumber yang mengejawantahkan presentasinya di diskusi tersebut.

Secara global, tren positif ini terjadi di sejumlah daerah, terutama Pulau Sumatera dan Pulau Jawa. Pun secara agregat, inflasi di kedua wilayah tersebut tercatat 0,23 persen dan 0,02 persen. Inflasi kedua wilayah itu disebabkan oleh peningkatan dua komoditi bahan pokok; cabai merah dan beras. Sementara di kawasan Timur Indonesia, secara agregat mencatat deflasi sebesar 0,30 persen. (*)

Reporter : Fai    Editor : Dwi Hendro B.



Comments

comments


Komentar: 0