23 Juni 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Asisten Gubernur Bank Indonesia: Mereka Tidak Lagi Baca Koran


Asisten Gubernur Bank Indonesia: Mereka Tidak Lagi Baca Koran
Dyah Nastiti, Asisten Gubernur Bank Indonesia, saat memberikan sambutan pembukaan Pelatihan Wartawan Daerah Bank Indonesia 2017, Senin 20 November 2017, di Grand Sahid Jaya, Jalan Sudirman, Jakarta Pusat. (Foto: KLIKSAMARINDA)

KLIKSAMARINDA.COM - Teori generasi (Generation Theory) ternyata menjadi atensi bagi Bank Indonesia. Siapa dan bagaimana target kebijakan mereka --sebagai Bank Sentral-- menjadi salah satu tolok ukur kesuksesan Bank Indonesia dalam menjalankan fungsi sebagai penjaga stabilitas ekonomi Tanah Air.

Dyah Nastiti, Asisten Gubernur Bank Indonesia, mengambil banyak sample saat menguraikan hal ini. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2016 lalu, misalnya, diketahui rata-rata umur penduduk di Indonesia ternyata semakin muda, yakni 28 tahun. Bahkan 65 persen diantaranya berada di bawah 39 tahun.

Contoh lainnya yang dikutip Dyah adalah hasil penelitian pendidikan di Amerika yang dilakukan Marc Prensky. Marc melihat ada sebuah fenomena tak biasa terjadi di kalangan pelajar Paman Sam.

Mereka, rata-rata, memiliki tingkat kecerdasan yang mumpuni. Namun anjlok dalam nilai pendidikan di sekolah.

Hasil penelitian Marc berjudul "Digital Natives, Digital Immigrants," mengejawantahkan panjang lebar soal itu. "Mereka yang lahir di era digital, memahami bentuk komunikasi yang berbeda," ucap Dyah, dalam sambutan pembukaan Pelatihan Wartawan Daerah Bank Indonesia 2017, Senin 20 November 2017, di Grand Sahid Jaya, Jalan Sudirman, Jakarta Pusat.

Dyah menguraikan, dalam penelitian itu pula, diketahui bagaimana ciri generasi ini, yakni multitasking. Efeknya --menurut para ahli-- mereka yang terbiasa multitasking memiliki daya konsentrasi yang menurun sampai 50 persen. Persoalan ini --pada akhirnya-- mengakibatkan bentuk komunikasi mereka yang berbeda.

"Sederhananya, ketika melihat berita, mereka tidak suka tulisan yang panjang, karena itu tidak menarik bagi mereka," tutur Dyah.

Selain dua sample tersebut, Dyah juga mencontohkan bagaimana kasus terbaru ketika seorang dosen di salah satu universitas ternama di Indonesia bertanya kepada mahasiswanya soal peristiwa kebakaran hebat di pabrik kembang api yang terletak di Jakarta Barat.

Pertanyaan itu sendiri dilontarkan sang dosen setelah dua hari kejadian. Hasilnya, ujar Dyah, cukup mengejutkan. Mayoritas mahasiswa sang dosen tidak mengetahui terjadinya peristiwa tersebut.

"Dosennya kemudian bertanya, 'kok enggak tahu? Apa enggak baca koran?' Jawaban mereka, 'enggak baca koran.' Si dosen kemudian bertanya lagi, 'lalu baca apa?' Mereka menjawab, 'baca Line Today." Mengapa mereka lebih gemar membaca Line Today? Gambarnya menarik, tulisannya sedikit. Yang dibaca lifestyle. Mereka tidak lagi baca koran," tutur Dyah.

Di titik inilah, Bank Indonesia, menurut Dyah, ingin menjawab tantangan tersebut lewat Pelatihan Wartawan Daerah 2017 yang berlangsung sejak Senin 20 November 2017 hingga Rabu 22 November 2017.

Dyah melihat efektivitas komunikasi kebijakan Bank Indonesia kepada masyarakat hanya ada pada media massa. Itu sebabnya, Pelatihan Wartawan Daerah 2017 --di Grand Sahid Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat-- menekankan salah satu aspek komunikasi ini. Yakni meningkatkan pemahaman wartawan daerah dalam meliput kebijakan Bank Indonesia untuk kemudian disiarkan kepada masyarakat luas di daerah masing-masing.

"Ini tantangan bagi Bank Indonesia untuk mensosialisasikan kebijakannya sebagai Bank Sentral. Ini tentu kasus menarik bagi Bank Indonesia dalam melihat tren penduduk Indonesia, dimana mereka tak hanya menjadi objek dan subjek kebijakan kami. Tentu persoalan lainnya bukan sekadar berapa banyak menangkap readership. Ini semua tugas Bank Indonesia dan teman-teman media agar bisa bekerja keras bersama-sama," paparnya. (*)

Reporter : Fai    Editor : Dwi Hendro B.



Comments

comments


Komentar: 0