21 Juli 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

BNNP Kaltim: Mari Kenali Rehabilitasi Berkelanjutan Bagi Penyalahguna atau Pecandu Narkoba


BNNP Kaltim: Mari Kenali Rehabilitasi Berkelanjutan Bagi Penyalahguna atau Pecandu Narkoba

Oleh : Hj. Heni Cahyowati,S. Kep., Ns  
(Kepala Seksi Penguatan Lembaga Rehabilitasi BNN Provinsi Kalimantan Timur)

Penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Indoensia masih menjadi permasalahan Nasional yang tidak kunjung tuntas. Dalam kurun waktu satu dekade terakhir, permasalahan ini menjadi kian marak dan kompleks. Terbukti dengan bertambahnya jumlah penyalahguna dan/atau pecandu narkoba secara signifikan seiring meningkatnya pengungkapan kasus tindak kejahatan peredaran gelap narkoba yang semakin beragam polanya dan semakin massif pula jaringan sindikatnya.

Dampak yang ditimbulkan dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba tidak hanya mengancam kelangsungan hidup dan masa depan penyalah gunanya saja, namun juga masa depan bangsa dan Negara. Dampak tersebut mengancam berbagai lapisan masyarakat tanpa membedakan strata sosial, ekonomi, usia, maupun tingkat pendidikan.

Diperlukan berbagai upaya untuk menekan angka prevalensi penyalah guna narkoba tersebut melalui kebijakan dan strategi yang meliputi demand reduction (pengurangan permintaan) dan supply reduction (pengurangan pasokan).

Terkait demand reduction, perlu dilakukan upaya preventif terhadap penyalah guna dan/atau pecandu narkoba. Upaya preventif dilakukan melalui kampanye secara massif untuk menumbuhkan kesadaran dan kebersamaan masyarakat menolak dan memerangi keberadaan narkoba di tengah lingkungan mereka.

Sedangkan upaya rehabilitatif dilakukan melakukan penanganan secara intensif dan berkesinambungan melalui program rehabilitasi berkelanjutan (sustainable rehabilitation) sebagai upaya pemulihan terhadap “korban” penyalah guna sehingga tidak lagi dijadikan sasaran para sindikat narkoba.

Adapun untuk rehabilitasi berkelanjutan disusun dalam rangka penatalaksanaan rehabiliasi bagi penyalahguna guna dan/atau pecandu narkoba secara efektif dan kompehensif. Tujuannya mengakselerasi peningkatan angka pemulihan dan pengurangan angka kambuh kembali (relapse) sehingga penyalah guna dan/atau pecandu narkoba mampu hidup normatif menjadi pribadi yang mandiri dan produktif.

Rehabilitasi berarti pemulihan kapasitas fisik dan mental kepada kondisi/keadaan sebelumnya. Bagi penyalah guna dan/atau pecandu narkoba, rehabilitasi merupakan sebuah proses yang harus dijalani dalam rangka pemulihan sepenuhnya (full recovery), untuk hidup normaif, mandiri, dan produktif di masyarakat.

Penyalah guna dan/atau pecandu narkoba mengikuti program rehabilitasi dapat didasarkan atas kesadaran sendiri, hasil penjangkauan, program wajib lapor, tersangka yang sedang menjalani proses penyidikan dan penuntutan, terdakwa yang sedang menjalani proses persidangan, dan terpidana yang telah mendapat penetapan atau keputusan hakim. Tujuan umum rehabilitasi yaitu memulihkan dan mempertahankan kondisi kesehatan fisik atau biologis, psikologis, sosial dan spiritual, dari ketergantungan terhadap narkoba, sehingga dapat produktif dan melaksanakan fungsi sosial.

Pelaksanaan rehabilitasi berkesinambungan atau berkelanjutan bagi penyalah guna, korban penyalahgunaan dan/atau pecandu narkoba terdiri dari serangkaian kegiatan mulai dari proses penerimaan awal (intake process), rehabilitasi medis, rehabilitasi sosial hingga pelaksanaan pascarehabilitasi.

Adapun tahapan pelaksanaan rehabilitasi berkesinambungan meliputi penerimaan awal, pelayanan rehabilitasi dan pelayanan pascarehabilitasi. Penerimaan awal terdiri dari skrining yang merupakan proses awal yang dilakukan sebelum penyalah guna, korban penyalahgunaan dan/atau pecandu narkoba menjalani program rehabilitasi.

Skrining harus dilakukan menggunakan instrument singkat yang valid dan cepat hanya untuk mendapatkan informasi adakah suatu factor risiko dan atau masalah yang terkait dengan penggunaan narkotika. Selanjutnya, proses asessmen yan merupakan rangkaian pemeriksaan yang dilakukan secara menyeluruh tentang keadaan klien terkait pemakaian narkoba dan dampaknya terhadap dirinya serta lingkungannya.

Asessmen dilakukan untuk mendapatkan informasi gambaran klinis dan masalah yang lebih mendalam dari seorang klien secara komprehensif, baik pada saat klien memulai program, selama menjalani program hingga selesai mengikuti program. Instrument yang digunakan dalam proses asessmen mengacu pada standar instrument internasional yaitu Addiction Severity Index (ASI). Di dalamnya memuat tujuh domain utama dalam proses asesmen pada pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika yaitu status medis, status pekerjaan atau pendidikan, status penggunaan NAPZA, status penggunaan alkohol, status legal, riwayat keluarga/sosial, dan status psikiatri.

Proses selanjutnya yaitu Pelayanan Rehabilitasi yang merupakan upaya terapi (intervensi) berbasis bukti yang mencakup intervensi singkat, perawatan medis, psikososial, atau kombinasi keduanya baik perawatan inap (jangka pendek dan jangka panjang) maupun rawat jalan.

Intervensi singkat yaitu suatu cara untuk mengubah sikap dan perilaku penyalah guna, korban penyalahgunaan dan/atau pecandu narkoba untuk tidak menggunakan narkoba kembali melalui berbagai intervensi seperti intervensi psikososial melalui konseling dasar baik secara individual maupun kelompok.

Layanan selanjutnya yaitu rehabilitasi rawat jalan yang diberikan kepada penyalah guna, korban peyalahgunaan dan/atau pecandu narkoba dengan kriteria tingkat pengguna ringan dan tingkat pengguna sedang. Pemberian terapi disesuaikan dengan diagnosis yang ditegakkan dengan memberikan terapi simptomais, yaitu terapi terkait kondisi fisik/psikis dan intervensi psikososial untuk mencapai dan mempertahankan kondisi pemulihannya.

Adapun terapi yang dapat dilakukan di rawat jalan di antaranya terapi simptomatik, konseling adiksi/konseling individu, pencegahan kekambuhan, dan konseling keluarga. Selain rehabilitasi rawat jalan, ada pula layanan rehabilitasi rawat inap yang dilaksanakan secara berkesinambungan dan komprehensif terdiri dari rehabilitasi medis dan sosial serta melibatkan tenaga professional di bidnagnya, meliputi terapi medis, terapi psikososial, spiritual dan rujukan spesialistik. Layanan rehabilitasi rawat inap diberikan kepada pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika dengan tingkat penggunaan sedang sampai berat berdasarkan rencana terapi dan sesuai dengan diagnosis yang telah ditegakkan.

Setelah melalui proses rehabilitasi, baik itu rehabilitasi rawat inap ataupun rawat jalan, untuk selanjutnya melalui proses Pascarehabilitasi. Pelaksanaan Pascarehabilitai merupakan tahapan pembinaan lanjutan yang diberikan kepada penyalahguna, korban penyalahgunaan dan/atau pecandu narkoba setelah menjalani rehabilitasi dan merupakan bagian yang integral dalam rangkaian rehabilitasi ketergantungan narkoba.

Tujuan dari pelaksanaan pascarehabilitasi salah satunya untuk membimbing mantan penyalah guna, korban penyalahgunaan dan/atau pecandu narkoba dalam mengembangakan pribadi yang mandiri dan tangguh terhadap godaan untuk tidak mneyalahgunakan narkoba kembali serta mampu memelihara pemulihannya agar tidak terjadi kekambuhan (relapse).

Mekanisme pelaksanaan pascarehabilitasi terdiri dari tahap persiapan yang dimaksudkan untuk sosialisasi terkait program pascarehabilitasi. Salah satu tahapan persiapan yaitu asesmen pra program yang dilakukan sebelum mengikuti program Pascarehabilitasi untuk menilai aspek biopsikososial dan spiritual serta vokasional.

Pelaksanaan pascarehabilitasi merupakan program yang wajib dijalani oleh mantan penyalah guna, korban penyalahgunaan dan atau pecandu narkoba setelah selesai menjalani program rehabilitasi. Pada layanan pascarehabilitasi yang dikembangkan oleh Badan Narkotika Nasional meliputi layanan rumah damping, layanan pascarehabilitasi melalui BNN Provinsi, Kota, Kabupaten, dan rawat lanjut.

Program rumah damping diperuntukkan bagi mantan penyalah guna, korban penyalahgunaan dan/atau pecandu narkoba yang selesai menjalani rehabilitasi, khususnya rehabilitasi rawat inap. Dalam pelaksanaannya, program rumah damping meliputi program pencegahan kekambuhan, ketahanan diri, pengembaran diri melalui program vokasional, dan kelompok bantu diri. Kegiatan rumah damping dilaksanakan kurang lebih selama 50 hari.
Selanjutnya adalah kegiatan Layanan Pascarehabilitasi melalui BNN Provinsi, Kota, Kabupaten, merupakan pelayanan aktif bagi mantan penyalah guna, korban penyalahgunaan dan/atau pecandu narkoba yang telah selesai menjalani rehabilitasi rawat jalan dan/atau pascarehabilitasi rumah damping.
Pada dasarnya, mantan penyalah guna, korban penyalahgunaan dan/atau pecandu narkoba yang mengikuti program datang secara periodik dengan jadwal yang telah ditentukan sesuai kesepakatan. Salah satu fungsi dari layanan pascarehabilitasi melalui BNN Provinsi, Kota, Kabupaten, yaitu sebagai wadah berkumpulnya mantan penyalah guna, korban penyalahgunaan dan/atau pecandu narkoba dalam meningkatkan kualitas diri sehingga mampu menjalankan funsi sosialnya di masyarakat.

Kegiatan ini terdiri dari 7 kegiatan, yaitu kegiatan group therapy selama 4 kali pertemuan, seminar pengembangan diri selama 2 kali dan Family Support Group selama 1 kali. Tahapan terakhir dari rangkaian rehabilitasi berkelanjutan yaitu pendampingan dan perawatan lanjutan.

Gambaran proses pendampingan yang diberikan berupa kunjungan ke rumah klien yang dilakukan secara berkala maupun sesuai dengan kebutuhan dari klien. Selama di rumah klien, seorang pendamping dapat berkomunikasi langsung tidak hanya dengan kien saja. Akan tetapi dapat berkomunikasi langsung dengan pihak keluarga maupun dengan warga sekitar untuk menanyakan seputar perkembangan klien. Selain itu ada kegiatan perawatan lanjutan yang di dalamnya terdapatnya berbagai kegiatan yaitu kelompok bantu diri, seminar, diskusi tematik, layanan konseling dan pemeriksaan urin secara berkala.

Pemulihan merupakan sebuah proses panjang. Setiap penyalah guna yang telah menjalani perawatan pemulihan bukanlah sebuah jaminan tidak akan kambuh lagi atau tidak menggunakan zat kembali. Untuk itu setiap penyalah guna yang telah selesai menjalani proses perawatan rehabilitasi mulai dari tahap awal sampai dengan selesai program pascarehabilitasi.

Keberhasilan program rehabilitasi berkelanjutan bagi penyalah guna dan/atau pecandu narkoba sangat ditentukan oleh kekuatan tekad internal (pribadi) dan eksternal (lingkungan sosial) untuk pulih dari ketergantungan narkoba. (Adv)

Reporter :     Editor : Klik Samarinda



Comments

comments


Komentar: 0