21 November 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Keren, Atlet Difabel Asal Kalimantan Timur Ini Raih Emas dan Pecahkan Rekor


Keren, Atlet Difabel Asal Kalimantan Timur Ini Raih Emas dan Pecahkan Rekor
Guntur (kiri) atlet difabel asal kalimantan Timur

KLIKSAMARINDA.COM - Prestasi Indonesia di ajang ASEAN Para Games cukup membanggakan. Prestasi itu tidak terlepas dari perhitungan strategi dan pemusatan latihan.

Selain itu, odal utama kontingen Indonesia adalah para atlet yang mumpuni. Selama kurang dari sepekan ASEAN Para Games berlangsung, kontingen Indonesia telah memecahkan 36 rekor yang terbagi dalam tiga cabang olahraga, yaitu renang, angkat besi, dan atletik.

Slamet Widodo, selaku pelatih atletik, menuturkan hal itu dapat ditelusuri sejak masa perekrutan.

"Kami melihat atlet itu dari fisiknya. Meskipun dia punya keterbatasan di mata, misalnya, kakinya dan kekenyalan ototnya itu kami lihat. Kemudian contoh lagi, tuna daksa yang kehilangan satu tangan, tapi kakinya kuat, posturnya bagus. Nah, individu seperti itu kami rekrut. Setelah direkrut, kami bina dengan bagus. Mulai dari latihan kecepatan, power, dan sebagainya," papar Slamet

Salah satu sarana perekrutan yang terbukti efektif adalah melalui ajang kompetisi olahraga daerah atau pekan paralimpik daerah (Peparda).
Guntur, atlet renang asal Kalimantan Timur, misalnya. Pria yang aslinya berprofesi sebagai nelayan itu, mengalami kecelakaan kapal motor pada 2000. Tangan kirinya hancur akibat mesin kapal sehingga harus diamputasi.

Namun, nasibnya berubah saat dia berkompetisi di Peparda Kaltim tahun 2006.

"Saya awalnya nggak tahu ada olah raga difabel. Dari seorang pelatih sepak bola, saya baru tahu ada Peparda. Saya pun ikut Peparda tahun 2006 di cabang olah raga renang, dapat enam emas. Empat tahun kemudian saya dipanggil untuk membela Indonesia yang menjadi tuan rumah ASEAN Para Games ," papar Guntur.

Sejak itulah Guntur menjadi atlet nasional. Pada Asean Para Games 2017 lalu, dia meraih lima medali emas dan memecahkan empat rekor.

Tahun depan, tepatnya pada 8 hingga 16 Oktober 2018, Indonesia akan menjadi tuan rumah Para Games di tingkat Asia dan berkompetisi di 17 cabang olahraga.

Sejumlah atlet, termasuk Guntur, menyatakan siap untuk kembali membela Indonesia. Meski demikian, agar Indonesia bisa berjaya di tahun-tahun mendatang, regenerasi harus sudah disiapkan.

"Saya sudah berusia 34 tahun. Untuk berkompetisi di tingkat internasional, mungkin masih bisa dua, tiga tahun lagi. Calon-calon pengganti saya sudah ada, usianya 18 tahun," kata Guntur.

Dengan berbagai persiapan yang dilakukan, para atlet difabel merasa percaya diri dapat mengharumkan nama Indonesia dalam kompetisi tahun depan. Apalagi, jurang pemisah dalam wujud penghargaan antara atlet difabel dan non-difabel kini telah tiada, sebagaimana dipaparkan Setyo Budi Hartanto, atlet difabel yang meraih dua medali emas dan memecahkan satu rekor pada ASEAN Para Games di Kuala Lumpur.

"Saya sudah mengikuti olah raga difabel sejak 2004, kita masih dibedakan dengan atlet non-difabel dalam bentuk tempo pelatnasnya, nominal-nominalnya, penghargaannya. Tahun ini, Alhamdullilah sudah disamakan. Honor sama, transportasi sama, pelatnas temponya lama. Kalau dulu, ah masa dianggap gimana gitu. Seadanya. Bersyukur atlet difabel sekarang," tutupnya. (*)

 

(Sumber: BBC)

Reporter :     Editor : Klik Samarinda



Comments

comments


Komentar: 0