21 November 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Geliat Nyata Ekonomi Warga di Pasar Ramadan


Geliat Nyata Ekonomi Warga di Pasar Ramadan
Aktivitas warga di Pasar Ramadan (Foto: Ist)

Opini Ir. H. Sutrisno Thoha (Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kaltim)

Ramadan membawa keberkahan. Demikian nyata bisa kita liat dan rasakan. Dari sisi ketaatan berjubelnya kaum muslimin menunaikan sholat di masjid pada malam-malam Ramadan menjadi pemandangan yang mudah kita didapatkan dibandingkan di luar Ramadan.

Majelis-majelis ilmu marak diadakan, bukan saja di masjid atau di mushola. Namun di kantor bahkan di mall-mall dan di hotel-hotel. Suasana batin Ramadan demikian terasa kedekatan manusia dengan Sang Pencipta.

Kenyataan religi ini semoga saja akan terus bertahan di luar Ramadan dan tercapainya insan bertaqwa yang paripurna sebagaimana tujuan puasa.

Ada pemandangan yang menarik di samping fenomena spiritual tahunan Ramadan. Bisa kita lihat dan mudah kita dapati pasar Ramadan yang berjejer di jalanan dengan cukup rapi maupun di tempat-tempat yang disulap menjadi pasar Ramadan.

Apakah pasar Ramadan bisa kita nilai sebagai pertanda hadirnya bulan Ramadan atau ada geliat ekonomi masyarakat? Sah-sah saja jika kita menilai pasar Ramadan adalah musiman.

Masyarakat dimudahkan mencari barang keperluan terutama mencari bahan makanan untuk keperluan berbuka puasa dan menyiapkan bahan sahur untuk malamnya. Di sudut yang lain, perlu kita cermati adanya geliat berusaha dari masyarakat yang berjualan.

Amati lagi, produk jualannya; mulai dari yang benar-benar berlatar belakang sebagai penjual. Namun banyak juga kita lihat penjual dadakan yang menyajikan dagangan sederhana tanpa perlu sentuhan teknologi maupun permodalan yang memadai.

Contoh saja penjual minuman dengan aneka rasa dan jenisnya. Sebut saja es cendol, cincau, es kelapa muda dan sejenisnya. Mereka tidak perlu sentuhan teknologi yang modern dan modalnya pun tidak seberapa. Namun hasilnya bisa berlipat ganda.

Ada juga berjenis makanan jajan pasar atau wadai yang murah meriah mulai harga Rp800 yang cara pembuatannya pun sederhana. Inilah yang perlu kita catat sebagai geliat ekonomi pasar Ramadan.

Pertama, geliat bangkit berusaha yang bisa kita simak dari para penjual. Tanpa disadari, jiwa entrepreneur tumbuh dalam sebagian masyarakat kita. Mendadak menjadi penjual dengan menjaring pangsa pasar musiman yaitu kaum muslimin sembari menunggu saatnya berbuka puasa berjalan-jalan ke pasar Ramadan memilih makanan dan minuman yang diinginkan dan sesuai isi dompetnya.

Kedua, permodalan tidak lagi menjadi alasan untuk diam berusaha. Ada keinginan maka ada jalan. Modal sedikit bisa bangkit dan menghasilkan.

Sisi inilah yang seharusnya juga dapat ditangkap oleh instansi terkait bagaimana ke depannya bisa mendata dan membina sehingga tidak sekedar menjadi penjual musiman namun menjadi penjual atau pedagang yang mandiri, menjadi sokoguru penghasilan tambahan. Bahkan penghasilan utama keluarga.

Ketiga, pasar terbentuk dengan sendirinya. Kita dapati dengan jelas bagaimana riuhnya pertemuan penjual dan pembeli di pasar-pasar Ramadan baik di pinggir jalan maupun yang disiapkan khusus sebagai pasar Ramadan. Semua mendapatkan hasil, dari mulai penjual sampai tukang parkir.

Semua gembira dari anak sampai orang tua sebagai pembeli, mendapatkan bermacam pilihan makanan dan barang keperluan sesuai keinginan. Bertumbuh jiwa entrepreneur dari lapisan masyarakat, tidak boleh lagi ada yang galau dengan terbatasnya kesempatan kerja di sektor-sektor pemerintahan karena kemandirian ekonomi bisa dimulai dari diri sendiri.

Ramadan memang membawa keberkahan bagi siapa saja yang mampu menangkap peluang pasar. Dan inilah geliat nyata yang bisa berdampak besar bagi perguliran ekonomi kita.

Reporter :     Editor : Klik Samarinda



Comments

comments


Komentar: 0