23 September 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Aneh Tapi Nyata dan Pertama Dalam Sejarah, Orangutan Albino Ini Ada di Kalimantan


Aneh Tapi Nyata dan Pertama Dalam Sejarah, Orangutan Albino Ini Ada di Kalimantan
Orangutan albino ini mengalami cedera ketika berusaha melawan ketika ditangkap warga. (Foto: BOSF/AFP)

KLIKSAMARINDA.COM - Wujud orangutan satu ini sangat berbeda dari umumnya. Kulitnya putih, bulunya keemasan, matanya dominasi biru. Sepintas, ia mirip dengan seorang bayi yang mengidap penyakit albino.

Beberapa pekan terakhir, ia menjalani perawatan khusus di fasilitas konservasi Yayasan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) di Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah. Kondisinya kian membaik setelah melewati masa kritis.

Ia diselamatkan pada 29 April 2017 lalu di Desa Tanggirang, Kapuas Hulu, Kalteng. Hewan liar ini diberi nama Alba --putih dalam bahasa Latin dan fajar dalam bahasa Spanyol.

Ya, saat ditemukan, Alba dalam kondisi menyedihkan; mengalami stres, dehidrasi, lemah, menderita infeksi parasit, dan tidak menunjukkan nafsu makan yang sehat.

"Selama beberapa hari pertama tinggal di Pusat Reintroduksi Orangutan kami di Nyaru Menteng, ia hanya mau makan tebu," kata Jamartin Sihite, Direktur Utama Yayasan BOS, seperti dikutip Klik Samarinda di laman BBC.

Baginya, Yayasan BOS tidak bisa begitu saja menempatkan Alba di hutan atau di suaka, tanpa mempertimbangkan semua kemungkinan terlebih dulu.

"Sejauh ini kami masih belum bisa menemukan contoh dan perbandingan dari orangutan albino lainnya, dan kami perlu tahu lebih banyak mengenai kondisi uniknya. Kesejahteraan dan keamanan merupakan prioritas dalam pengambilan keputusan mengenai masa depannya," ujar Jamartin.

Kasus albino pada orang utan, menurut Jamartin, adalah yang pertama dalam pencatatan sejarah. Berdasarkan data badan International Union for Conservation of Nature (IUCN), orangutan Kalimantan dikategorikan sebagai hewan yang kritis terancam punah.

Populasinya turun lebih dari 60 persen pada 1950 hingga 2010. Musababnya, kerusakan habitat dan perburuan. Jumlah orangutan diperkirakan akan mengalami penurunan lagi sebesar 22 persen pada 2010 hingga 2025.

Sementara, menurut Fransiska Sulistyo --Kepala Dokter Hewan Yayasan BOSF-- orangutan betina itu ditempatkan di bawah pengawasan penuh dan diberikan perawatan intensif. Kondisinya memang berangsur membaik. Bahkan, setelah dua pekan perawatan, berat badannya bertambah 4,5 kilogram.

"Selain kulit, ciri pada kasus albino adalah mata. Matanya berwarna biru. Dia merasa sangat tidak nyaman terhadap sinar matahari langsung, bahkan cenderung fotofobia (takut pada sinar matahari, Red.)," ujar Fransiska, seperti dikutip Klik Samarinda di laman BBC. (*)

Reporter : Kim    Editor : Fai



Comments

comments


Komentar: 0