27 Juli 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Gerakan Merawat Kebhinekaan, WNI Gelar Aksi di Filiphina


Gerakan Merawat Kebhinekaan, WNI Gelar Aksi di Filiphina
Komunitas Pelangi Manila untuk Indonesia Damai menyuarakan perdamaian dalam kebhinekaan, Sabtu 13 Mei 2017 (Foto: Dokumentasi)

KLIKSAMARINDA.COM - Gejolak di Indonesia menghadapi arus besar gelombang radikalisme yang memainkan perannya di ranah politik dengan isu Agama membuat warga memaknai kembali kebhinekaan. Misalnya, Komunitas Pelangi Manila di Filiphina.

Karena itu, Gerakan Merawat Kebhinekaan Komunitas Pelangi Manila untuk Indonesia Damai melangsungkan aksi damai Sabtu, 13 Mei 2017 waktu Manila di Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Manila. Para anggota Komunitas mengenakan pakaian adat daerah yang melambangkan Bhineka Tunggal Ika dalam aksi tersebut.

Aksi yang berlangsung di Kedutaan Indonesia di Manila, Filiphina ini berupa pemberian bunga hidup sebagai simbol kehidupan. Bunga bermakna memberi keindahan bagi semua dan menaungi semua, maka diharapkan agar Indonesia juga menjadi rumah bersama yang menaungi semua tanpa perbedaan.

"Di dalam setiap pot bunga ditancap beberapa tulisan berupa: Bhineka Tunggal Ika, Pancasila, Toleransi, NKRI, UUD’45 dan Lawan Radikalisme. Di samping itu juga dilakukan penyerahan pernyataan sikap yang dimaknai sebagai surat damai untuk merawat kebhinekaan kepada perwakilan Kedutaan Besar Indonesia," ujar Yohannes Kopong melalui rilis kepada KlikSamarinda Minggu 14 Mei 2017.

Komunitas ini menyadari jika situasi yang semakin memanas dengan muatan sentimen agama pada gilirannya melahirkan reaksi balik dan sentimen negatif.

"Kami Komunitas Pelangi Manila untuk Indonesia Damai merasa tergerak dan terpanggil untuk menyuarakan perdamaian dalam kebhinekaan dalam satu rumah bersama yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagai bentuk dukungan bagi usaha Pemerintah Republik Indonesia dibawah kepemimpinan Bapak Presiden Jokowi bersama Kepolisian dan TNI yang terus berjuang menjaga keutuhan NKRI," lanjut Pastur Kopong, sapaannya.

Lebih jauh, komunitas ini menilai jika gelombang perlawanan terhadap keberadaan kelompok radikal menjadi begitu kencang seiring dengan gerakan Silent Majority yang terjadi di Indonesia pasca Pilkada DKI Jakarta (2017) beberapa bulan yang lalu.

Para tokoh agama, elite politik, kaum intelektual serta pemerintah dan aparat penegak hukum yang diharapkan bisa menjadi mediator demi Indonesia Damai seakan tak berdaya dengan arus gelombang radikalisme yang memboncengi kepentingan politik.

Dalam aksi tersebut, Komunitas Pelangi Manila melayangkan pernyataan sikap untuk Indonesia Damai Gerakan Merawat Kebhinekaan adalah sebagai berikut:

1. Menyerukan kepada semua elemen kebangsaan (Organisasi Masyarakat, Organisasi Keagamaan, Organisasi Kepemudaan, Organisasi/Barisan Laskar, NGO/LSM, dan Organisasi Masyarakat Sipil lainnya) agar menahan diri atas tindakan-tindakan yang dapat memprovokasi kelompok masyarakat lainnya. Bahwa perpecahan dan konflik sesama warga masyarakat tak akan membawa manfaat apa-apa bagi perbaikan dan kemajuan bangsa ini, bahkan akan menjadikan kita semakin terpuruk dan mundur ke belakang;

2. Agar semua elemen masyarakat di Indonesia, menghentikan tindakan-tindakan vandalisme berupa penebaran kebencian terhadap sesama anak bangsa yang berpotensi memecah belah kerukunan dan persatuan, tindakan sweeping dan intimidasi bermodal fatwa, kekerasan dan pengrusakan tempat-tempat tertentu dengan mengabaikan hukum, serta tindakan lainnya yang dapat memicu konflik dan sentimen terhadap sesama warga negara;

3. Menyerukan kepada FPI dan HTI maupun barisan sekutunya, untuk tidak mengintimidasi masyarakat dengan sentimen-sentimen agama dan berhenti menjadikan agama sebagai kendaraan politik yang justru semakin memperkeruh dan mengguncang kedamaian dan keamanan NKRI;

4. Mendukung usaha Presiden Republik Indonesia bersama Kabinet Kerja, pihak Kepolisian dan TNI yang terus berusaha dan berjuang untuk membebaskan Indonesia dari ancaman radikalisme yang hendak menghancurkan keutuhan NKRI;

5. Menindak tegas pelaku penyebaran paham Radikalisme dan provokasi yang bernuansa isu SARA dan sentimen Agama;

6. Meminta Pemerintah dalam hal ini pihak Kepolisian dan TNI dalam kerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Agama Republik Indonesia, untuk segera melakukan evaluasi serta bertindak tegas terhadap lembaga pendidikan dari tingkat PAUD hingga SMA yang mengajarkan paham radikalisme dalam kurikulum pendidikan agama di sekolah-sekolah. Sekaligus membredel dan menarik seluruh buku yang berideologi radikalisme yang telah tersebar di lembaga-lembaga Pendidikan tertentu;

7. Menolak segala bentuk kriminalisasi dan politisasi atas nama agama dan isu SARA yang dimainkan oleh oknum perorangan, kelompok maupun partai untuk kepentingan kekuasaan kelompok atau golongan;

8. Hentikan segala perdebatan yang mengarah kepada serangan terhadap etnis, suku, ras, dan agama tertentu yang justru membuat kita lupa dengan persoalan pokok rakyat Indonesia, yakni pemiskinan, pengerukan sumber daya alam, dan penghancuran ruang hidup rakyat;

9. Mari tetap menjaga akal sehat kita dan bekerja bersama menjaga Indonesia sebagai Rumah Bersama tetap damai dan nyaman, sebagai ruang hidup bersama berbagai etnis dan agama.

Seluruh rangkaian aksi atau Gerakan merawat Kebhinekaan diakhiri dengan menyanyikan lagu Garuda Pancasila dan Satu Nusa Satu Bangsa untuk menegaskan kembali tetap tegaknya Pancasila sebagai perekat kebangsaan dan tetap menjaga keutuhan NKRI sebagai rumah bersama tanpa sentimen agama dan suku. (*)

Reporter : Maggie Aksan    Editor : Dwi Hendro B



Comments

comments


Komentar: 0