20 Januari 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Ini Kisah Jatuh-Bangun Musisi Asal Samarinda Pendiri EdanE


Ini Kisah Jatuh-Bangun Musisi Asal Samarinda Pendiri EdanE
Eet Sjahranie, gitaris EdanE (Foto: Ist)

KLIKSAMARINDA - Bongkar pasang personel mahfum terjadi pada sebuah grup musik. Tapi di EdanE, boleh jadi adalah "tradisi". Khusus untuk posisi vokalis, ada kebiasaan tak lazim manakala band beraliran rock ini merilis album.

Ya, sejak berdiri hingga kini, beberapa kali EdanE berganti vokalis. Ihwalnya terjadi saat proyek duo Eet Sjahranie dan Ecky Lamoh bernama E & E. Pasca project tersebut tamat, kelompok kecil ini bermetamorfosis menjadi sebuah band. Formasinya kala itu bertambah dengan kehadiran Fajar Satriatama (drummer).

Sosok lain yang hadir kemudian adalah Iwan Xaverius (bass). Kehadiran Fajar dan Iwan inilah yang melengkapi Eet (gitar) dan Ecky (vokalis) di medio 1991.

Sayang, formasi ini hanya bertahan setahun. Pada 1992, sosok Ecky sebagai vokalis digantikan oleh Heri Batara aka Ucok.

Lama bertahan, formasi kedua EdanE ini kembali berubah. Pada 2002, sosok di balik mikrofon EdanE berganti menjadi milik Trison. Untuk kali kesekian, vokalis ketiga EdanE ini tak bertahan lama. Nama Robby kemudian diplot mengisi suara hingga 2005.

Tuntas di era Robby, EdanE kemudian mulai kehilangan personel lain. Sang bassis, Iwan, memutuskan untuk mundur dari ingar bingar EdanE. Kondisi ini praktis hanya menyisakan Eet dan Fajar sebagai pendiri. "Setelah itu, EdanE hilang dari peredaran," kata Eet, seperti dikutip KlikSamarinda di salahsatu laman on line nasional.

Tertatih-tatih bertahan dengan formasi yang ada, nyatanya EdanE masih terus menggeliat di belantika musik nasional. Tawaran off air selalu datang dan mereka terima dari pelbagai tempat. Menariknya, di sela kesibukan itu, EdanE melakukan audisi tak resmi untuk mencari vokalis dan bassis yang lowong sejak 2005.

"Kami coba banyak musisi untuk vokal dan bass dengan langsung diajak manggung. Malah bisa juga dikatakan tur, ada beberapa titik," cerita pria bernama lengkap Zahedi Riza Sjahranie ini.

Proses panjang inilah yang ada akhirnya membawa EdanE bersua dengan vokalis anyar, Ervin Nanzabakri. Sempat mencoba pengisi suara yang lain, pilihan EdanE akhirnya tetap jatuh pada Ervin untuk menjadi personel tetap.

"Waktu itu ketemu Oktav (Daeng Oktav, bassis, Red.) dan Hendra (Hendra Zamzani, rhythm guitar, Red.) ketika jamming, dia menawarkan diri. Untungnya masuk," sebut gitaris asal Samarinda itu seraya tertawa.

Tercatat, resmi pada 2010, EdanE memiliki formasi baru. Eet, Fajar, Ervin, Hendra, dan Oktav. Formasi ini dinilai mereka sendiri adalah yang paling perfect sepanjang perjalanan band pelantun hits Ikuti itu.

"Harus gue akui, kalau formasi ini adalah yang paling sesuai menurut gue. Ini adalah formasi EdanE yang gue inginkan sejak lama, sejak dulu," tegas Eet --sapaannya.

Maka tidak heran, label rekaman cadas Log Zhelebour, juga langsung kepincut untuk merekrut mereka. Sebuah album yang menjadi koleksi ke 7 dirilis bertajuk Edan. Sayang, perjalanan itu bukanlah yang terbaik bagi band kelahiran 1991 ini. Industri musik yang tidak lagi membawa angin segar kepada musik rock, membawa EdanE kembali ke peraduan.

"Kenyataannya, Log Zhelebour juga tidak berani mempromosikan kami. Bahkan Jamrud mereka saja juga tidak berani diangkat. Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan sendiri sampai hari ini. Alhamdulillah, ada respon lagi karena lagu Hail Edan itu," beber Eet. (*)

Reporter : Fai    Editor : Dwi Hendro B.



Comments

comments


Komentar: 0