30 April 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Kami Temukan Kelompok Anarkisme Pertama di Samarinda (2)


Kami Temukan Kelompok Anarkisme Pertama di Samarinda (2)
Kolektif Haam Jaddah saat memperingati 5 tahun kasus Lumpur Lapindo bersama sejumlah aktivis gerakan di Samarinda. (Foto: Dok. Haram Jaddah for Klik Samarinda)

BUBARNYA scene Lembuswana sebagai tongkrongan underground pertama yang eksis di ruang publik, membuat individu-individu di dalamnya menyebar dan mendirikan scene lain secara personal dan kelompok. Di pelbagai tempat dan lokasi, identitas tongkrongan ini sangat bisa diidentifikasi ciri-cirinya dari penampilan.

Kawasan Vorvo dan depan tanah pemakaman nonmuslim di Kampung Jawa, misalnya, dulu diisi oleh musisi black metal. Nama yang mencuat di tangkringan ini adalah Wanda, gitaris sekaligus leader band Satanic Mantra.

Di Samarinda Seberang, sekumpulan punk rock muda dari ghetto-ghetto juga sayup terdengar mendirikan skena. Rutinitas harian Aan dan Ari --duo pentolannya-- bahkan lebih unik lantaran diiringi aktivitas religi; habsyi dan menabuh rebana di masjid. Mereka adalah the end generation band punk rock SMA Negeri 5 Samarinda, Chaos Oblonk. (Klik juga: Kami Temukan Kelompok Anarkisme Pertama di Samarinda - 3)

Pelataran Mal Samarinda Central Plaza, juga sempat membetot perhatian skena lokal dengan kehadiran duo street punk dari Makassar, Sulawesi Selatan; Farid dan Acil.

Tak lupa pula Plastic Toys, nama distro di Jalan Gatot Subroto yang menjadi scene musisi melodic punk yang mengorbitkan nama grup band Kaos Kutang.

Catatan tersebut kami himpun dari informasi sepotong-sepotong di jalanan selama perjalanan culture ini dalam rentang waktu 10 tahun pasca cerita scene Lembuswana. Informasi yang kami anggap belum begitu valid karena menyisakan ruang informasi kosong terhadap kehadiran skena diluar black metal dan punk/hardcore (punk/HC).



Reporter : Fai    Editor : Fai



Comments

comments


Komentar: 0