20 September 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Born to Be Wild; Kisah Ilmuwan dan Orangutan Kalimantan


Born to Be Wild; Kisah Ilmuwan dan Orangutan Kalimantan
Biruti Galdikas. (Foto: AFP)

KLIKSAMARINDA - Tidak banyak film layar lebar yang menceritakan tentang Kalimantan. Namun, Born to Be Wild bisa jadi pengecualian.

Mengambil plot di belantara Borneo, Warner Bros dan IMAX Filmed Entertainment mewartakan perjuangan seorang ilmuan perempuan asal Kanada dalam merawat orangutan.

Berkat dedikasinya selama berpuluh tahun, ratusan ekor Pongo Pygmaeus itu diselamatkan dari kepunahan. Lalu, siapa sosok penyelamat itu?

Dia adalah Biruti Galdikas, seorang profesor dari negara pecahan es itu yang mengabdikan hidup selama lebih dari 40 tahun untuk melindungi kera besar. Jauh sebelum ini, kisah Biruti sudah banyak didokumentasikan banyak media Tanah Air dan luar negeri.

Dalam sebuah kesempatan, Biruti menceritakan perjalanan hidupnya di hutan bersama orangutan.
Bagi perempuan yang mengaku telah menikah dengan pria keturunan Dayak itu, orangutan merupakan spesies yang memiliki kekerabatan terdekat dengan manusia. Istilah awamnya, saudara sepupu. "Orangutan itu 97 persen secara genetik menyerupai manusia dan mendekati nenek moyang kita," akunya.

/images/img_galeri/185871_4.jpg

Fasih berbahasa Indonesia, Biruti menerangkan arti penting pelestarian orangutan di Kalimantan. Sebab, kata Biruti, orangutan adalah simbol perjuangan melestarikan hutan.

"Saya percaya, ada kekuatan untuk memperjuangkan kehidupan orangutan," paparnya. "Hutan adalah tempat yang suci, tempat asal manusia. Kita meninggalkan hutan dan membangun kota, Tapi manusia tak akan bisa lepas dari hutan," imbuhnya.  

Dibalik itu, Biruti menyimpan kisah kelam. Pada pertengahan medio 90-an, Biruti harus berhadapan dengan para pembalak liar dan pengusaha kelapa sawit yang beroperasi di habitat orangutan.

Ancaman dan teror, sudah kadung dirasakan saban hari oleh perempuan kelahiran Jerman ini. Klimaksnya, Biruti harus mendapat pengawalan ketat polisi selama 2,5 tahun.

"Saya dikawal kemana pun saya pergi selama itu. Hanya saat ke toilet dan ke kamar tidur saja saya tidak bersama mereka," tuturnya, tersenyum.

Dalam kecemasan di masa kini, Biruti menaruh harap agar film Born to Be Wild dapat menggugah kesadaran semua orang untu melindungi sang saudara sepupu.

"Saya percaya kompromi. Tapi tak ada kompromi dalam penyelamatan orangutan dan hutan hujan tropis," tukasnya. (*)

Reporter : Ken    Editor : Fai



Comments

comments


Komentar: 0