20 Oktober 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Wah, Ada Gong Suku Dayak di Museum Prancis


Wah, Ada Gong Suku Dayak di Museum Prancis
Inilah wujud gong dari belantara Kaltim yang berada di Musee de la Musique. (Foto: AFP)

KLIKSAMARINDA - Benda berbentuk bulat itu berlapiskan perunggu. Guratan di semua bagiannya mewartakan jika alat musik tradisional ini berasal dari ribuan tahun lalu. Di antara tiga naga yang melingkar, pelbagai ukiran disematkan di sekujurnya yang berwarna charcoal tersebut.

Ya, nun jauh di Paris, Perancis, sebuah gong milik suku Dayak di Kalimantan Timur (Kaltim) ini ternyata berada. Tepatnya di ruang Music from Around the World. Gong yang kabarnya ditemukan dari belantara hutan Bumi Mulawarman itu merupakan salahsatu daya tarik Musee de la Musique di Philharmonie de Paris.

Sebab, selain gong Dayak, ada pula dua alat musik tradisonal lain dari Nusantara. Misalnya luth kecapi dan sitar dari tanah Sulawesi. Ketiganya ditempatkan rapi dalam etalase kaca.

Di Musee de la Musique, terdapat sekira 7.000 alat musik dan benda seni dari seluruh dunia yang menjadi koleksi. Namun hanya ada sekitar 1.000 alat musik maupun lukisan bertemakan musik yang dipamerkan secara permanen di dalam Musee de la Musique. Semuanya ditempatkan berdasarkan era dan jenisnya.

Beberapa yang menarik perhatian --selain gong Dayak-- adalah koleksi piano dari zaman dahulu yang punya pelbagai bentuk unik. Ternyata, piano zaman dulu memiliki gambar lukisan yang indah pada bagian penutup dan kerangkanya.

/images/img_galeri/5496419066.jpg

Ada juga cello raksasa yang ukurannya jauh lebih besar dari ukuran tubuh manusia normal. Koleksi biola dari berbagai zaman juga ada di museum yang memiliki 5 lantai ini, termasuk biola Stradivarius yang ternama.

Jika berkunjung ke Musee de la Musique, pengunjung akan mendapatkan alat penerjemah audio lengkap dengan headphone-nya. Dengan alat ini, pengunjung bisa mendengar penjelasan mengenai setiap alat musik yang ada di dalam museum dan juga mendengar suaranya.

Ada lima tema di museum musik yang disebut memiliki koleksi alat musik terbesar di Eropa ini. Yakni Birth of the Opera yang menampilkan alat musik abad ke-16, kemudian the Music of Light, lalu Romantic Europe yang menampilkan alat musik abad ke-19, beralih ke the Acceleration of History yang menampilkan alat musik abad ke-20 dan Music from Around the World.

Sedangkan di ruang workshop musik yang biasa digunakan untuk memberikan pelajaran soal musik kepada anak-anak, terdapat beberapa bagian dari alat musik gamelan dari Indonesia bersama dengan alat musik dari negara lain seperti djembe dari Afrika. Alat-alat musik di ruang workshop ini diajarkan pengetahuan dan cara memainkannya kepada anak-anak.

Beberapa sekolah di kawasan Eropa menjadikan Musee de la Musique sebagai salah satu program studi banding ketika berkunjung ke Paris. Hal tersebut masuk dalam salah satu program yang digalakkan museum ini, yakni educational activities. Selain itu, ada juga program conservation and research yang bertujuan untuk melestarikan alat-alat musik hampir punah. Biaya tiketnya untuk masuk ke Musee de la Musique sekira7 Euro atau setara Rp 99 ribu.

Musee de la Musique terletak di komplek gedung orkestra atau symphony hall, Philharmonie de Paris.
Baru beroperasi pada Januari 2015, tempat ini menjadi hall khusus yang megah untuk setiap pertunjukan musik orkestra. Di sekitarnya, terdapat museum yang memamerkan berbagai alat musik dari seluruh dunia. (*)

Reporter : Bunga Aviria    Editor : Fai



Comments

comments


Komentar: 0