19 April 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Eksklusif Berita Rekomendasi

Video: Senjakala Lumbung Pangan Samarinda


Video: Senjakala Lumbung Pangan Samarinda
Bahar, seorang petani asal Makroman Samarinda Kalimantan Timur di sekitar kolam ikan miliknya. Air kolam yang menyusut menyebabkan ikan-ikan mati pada 30 Maret 2016. (Foto: KlikSamarinda)

KLIKSAMARINDA.COM - "Sebelum ada tambang, pendapatan paling kecil Rp150 juta-Rp200 juta setahun. Nah, sekarang sudah ndak bisa diharap lagi. Karena apa, karena air sudah nda ada lagi."

Begitulah penuturan Bahar, Ketua Kelompok Tani Tunas Muda Makroman, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) kepada KlikSamrinda pada 30 Maret 2016.

Bahar mengingat waktu kejayaan pangan di Makroman, Samarinda sebelum adanya aktivitas pertambangan batu bara pada 2018.

"Di sini perikanan paling besar se-Indonesia pada tahun 2003. Luas lahan kami 6 hektar dengan jumlah kolam 50 petak. Ikan betutu cukup sukses pada waktu itu dan sekarang hancur total," ujar Bahar.

Sejak 2003, Bahar bersama sejumlah petani telah merasakan hasil panen pertanian yang melimpah di Makroman.

Namun, kondisi tersebut kini telah berubah.

"Ikan mati, pertanian gagal panen, semuanya. Sektor pertanian di sini kita anggap gagal," tandas Bahar.

Saat ini, lahan pertanian, baik sawah maupun kebun dan juga kolam, di Makroman dialiri air yang berasal dari tambang batubara.

(*)

Reporter : Magie Aksan    Editor : Dwi Hendro B.



Comments

comments


Komentar: 0