18 Agustus 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Ketika Neraka Adalah Orang Lain


Ketika Neraka Adalah Orang Lain
Pementasan \\\\\\\"Liang\\\\\\\" Kelompok Teater Mahardika SMA Negeri 8 Samarinda di Gedung Rinjani Asnawi Taman Budaya Samarinda Jalan Kemakmuran Kalimantan Timur pada Sabtu malam 16 Januari 2016. (Foto: KlikSamarinda)

KLIKSAMARINDA - Kelompok teater pelajar di Kota Tepian tampaknya tumbuh dengan subur. Pun, punya napas panjang.

Seperti yang dilakukan Kelompok Teater Mahardika SMA Negeri 8 Samarinda yang naik panggung untuk mementaskan 9 tahun pertunjukan tahunan mereka di Gedung Rinjani Asnawi Taman Budaya Samarinda Jalan Kemakmuran Kalimantan Timur pada Sabtu malam 16 Januari 2016.

Kelompok teater yang berdiri sejak 1990-an ini mementaskan lakon "Liang" karya Phutut Bukhori. Lakon ini merupakan lakon yang menyandarkan diri pada cerpen karya Indra Tranggono dengan judul sama.

Panggung di ruangan pertunjukan Gedung Rinjani Asnawi disulap menjadi sebuah pemukiman padat penduduk. Tiga bangunan sangat sederhana, satu di antaranya milik seorang mantan pemain ketoprak, Yu Milah.

Dari sinilah pertunjukan itu bermula, ketika keluarga Yu Milah, dalam pemeranan Teater Mahardika malam itu disebut Si Mbok, menjadi bahan gosip warga lainnya. Terutama ketika anak semata wayangnya, Wasti, melahirkan anak tanpa suami, untuk kesekian kali setelah pulang dari Kota.

Setiap warga kemudian tampak bergunjing dan berusaha mendefinisikan kehamilan Wasti. Tetapi, Wasti pun tak dapat menyebut nama lelaki yang membuahkan anak pada rahimnya.

Di situlah konflik bermula, ketika sepasang ibu dan anak menerima suara-suara yang menyudutkan mereka. Siksaan dan tekanan bagi keduanya lahir dari kata-kata tetangga.

"Lha kalau setiap tahun Wasti pulang bawa anak, tempat kita pasti sumpek,” kata seorang tetangga.

Para tetangga terus menerus berusaha menguliti dosa Yu Milah dan Wasti sambil bertahan agar dosa-dosa mereka tetap tersembunyi.

Di sisi lain, Yu Milah dan Wasti bertahan dari serangan yang dilakukan dan bertahan dari penilaian-penilaian orang lain. Rasanya, konteks tersebut agak mendekati pandangan Jean Paul Sartre: hell is other people (neraka adalah orang lain).

Pertahanan Yu Milah, akhirnya jebol. Dia tak sanggup menahan gempuran gunjing tetangga. Dia mengamuk dan mengambil tindakan kekerasan terhadap para tetangga.

Menarik ketika menyimak adegan per adegan yang diperankan oleh pelajar-pelajar SMA Negeri 8 Samarinda ini. Lakon ini didorong oleh hasrat untuk mengungkapkan realitas masyarakat pinggiran yang diselimuti kemiskinan dan dampak yang diakibatkannya. 

Meskipun lakon ini dikemas sangat jauh dari konteks Samarinda, tampak dari logat dan konteks lakon yang diarahkan sutradara (Fahri Mahayupa), namun pertunjukan Teater Mahardika menjadi alternatif untuk belajar masalah sosial yang ada di masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Ada baiknya mencermati kutipan naskah cerpen Indra Tranggono (Kompas:2013) yang menjadi deskripsi masyarakat yang dijadikannya latar.

Begini:

"Tonjolan dan lepotan semen mencuat seperti goresan kuas seorang maestro. Beberapa bagian dari rumah-rumah itu ditutup dengan tripleks atau papan kayu bekas peti kemas. Cat rumah-rumah itu berwarna-warni, seperti gebyar pawai, begitu riuh, seperti percakapan mereka yang berlangsung setiap waktu."

Bukankah hal tersebut tampak juga di Samarinda? (*)

Reporter : Jante Mangkalihat    Editor : Dwi Hendro B



Comments

comments


Komentar: 0